|
Kampung ini dihuni oleh + 100 KK (kepala keluarga) dan 3 marga yaitu Kwaras ,Hegemur dan Wanggabus. Ketiga marga ini, sudah ada sejak pertama kali kampung ini dibangun. Penduduk yang memiliki tingkat sosial yang cukup tinggi sehingga kerukuna antara pendudukpun tetap terjaga dengan baik. Mereka ini berasal dari suku mbaham. Suku mbaham adalah urutan suku pertama yang ada dikota fakafak diikuti oleh suku-suku yang lainnya. Bahasa yang digunakanpu adalah bahasa mbaham. Bahasa kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan dan bahasa komonikasi dengan orang luar yang bukan pendudu asli kampung wambar.

Bila dipandang dari segi pendidikan, kampung wambar merupakan salah satu kampung di distrik fakfak timur yang memiliki banyak sarjana dan SMA sederajat namun sampai sekarang kampung wambar masih jauh dari target yang diinginkan. Entah apa penyebabnya belum bisa dipecahkan permasalahannya. Namun harapan kedepan kampung wambar dapat menjadi kampung percontohan bagi kampung-kampung yang lainnya.
Penduduk kampung wambar 100% menganut agama Islam, agama ini telah berjalan sejak adanya para leluhur mereka. Namun demikian tenggang rasa terhadap agama lain sangat tinggi. mereka saling menghargai satu sama lain. Konon, sudah ada 3 agama yang telah menjadi kepercayaan para leluhur mereka. Ketiga agama ini dibagikan kepada para penerus keturunan yang sudah ditentukan sebagai pewaris agama masing-masing. Oleh sebab itu meskipun memiliki satu marga yang sama dengan penduduk dari kampung lain, tetapi mereka menganut agama yang berbeda seperti Kristen katholic dan Protestan.
Mata pencaharian mereka yaitu berkebun dan nelayan.
Pala merupakan hasil pertanian utama mereka. Namun karena pala merupakan hasil tahun yang dipanen sehingga mereka juga berkebun hasil tanaman lainnya. Pala bukan hanya merupakan tanaman penduduk kampung ini saja tetapi seluruh penduduk asli kabupaten Fakfak. Ketika panen tiba para petani pala akan kedatangan para pembantu atau para pekerja yang mencari rejeki untuk membantu pemilik pala. Oleh karena itu kebiasaan ini bukan lagi merupakan yang pertama kalinya. Para pemilik palapun akan membagikan rejeki mereka dengan orong-orang tersebut. Dengan cara menerima bantuan tenaga mereka dan hasil dari panen akan dibagikan kepada mereka.

Saran saya sebagai penulis jika kita telah memiliki suatu kelebihan jangan lupa untuk membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan dan perhatian dari kita. Ingat kemajuan suatu tempat bukan karena kegagalan dari pemimpinnya tetapi kurangnya dorongan dan motivasi yang ada pada penduduk itu sendiri, sehingga dalam menciptakan sesuatu yang baru selalu mengalami penundaan yang begitu lama, bahkan tidak samasekali.